Showing posts with label Penulis. Show all posts
Showing posts with label Penulis. Show all posts
10:52 AM

Biografi Sapardi Djoko Damono - Sastrawan Indonesia

Salah satu sastrawan Indonesia yang produktif menerbitkan karya adalah Sapardi Djoko Damono. Beliau aktif menulis sejak berusia 13 tahun dan sudah menerbitkan lebih dari 27 buku. Buku-buku beliau bukan hanya puisi dan cerpen, melainkan juga buku non fiksi seperti Sastra Lisan Indonesia (1983).

Riwayat hidup

Sapardi Djoko Damono (SDD) lahir di Surakarta, 20 Maret 1940. Masa mudanya dihabiskan di Surakarta (lulus SMP Negeri 2 Surakarta tahun 1955 dan SMA Negeri 2 Surakarta tahun 1958). Sapardi merupakan anak sulung dari pasangan Sadyoko dan Sapariah. Sadyoko adalah abdi dalem di Keraton Kasunanan, mengikuti jejak kakeknya. Berdasarkan kalender Jawa, ia lahir di bulan Sapar. Hal itu menyebabkan orang tuanya memberinya nama Sapardi. Menurut kepercayaan orang Jawa, orang yang lahir di bulan Sapar kelak akan menjadi sosok yang pemberani dan teguh dalam keyakinan.

Ia menikah dengan Wardiningsih dan dikaruniai seorang putra dan seorang putri.

PENDIDIKAN 

  • Sekolah Dasar Kasatrian
  • SMP II Mangkunagaran
  •  SMA II di Margoyudan
  • Jurusan Sastra Barat Fakultas Sastra dan Kebudayaan UGM

KARIR 
  • Guru Besar Ilmu Sastra
  • Pembantu Dekan I Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya UI
  • Dekan Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya UI
  • Ketua Program Pascasarjana Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya UI
  • Pendiri Himpunan Sarjana Kesusastraan Indonesia (HISKI)
  • Dosen Universitas Diponegoro
  • Direktur Pelaksana Yayasan Indonesia
  • Dosen tetap di Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya UI
  • Anggota Dewan Kesenian Jakarta
  • Pelaksana harian Pusat Dokumentasi HB Jassin
  • Anggota redaksi majalah kebudayaan Basis
  • Country editor untuk majalah Tenggara
  • Koresponden untuk Indonesian Circle
  • Pendiri Yayasan Puisi dan menerbitkan Jurnal Puisi

Karier Menulis

Awal karir menulis Sapardi dimulai dari bangku sekolah.  Pada masa itu, beliau sudah menulis sejumlah karya yang dikirimkan ke majalah-majalah. Kesukaannya menulis ini berkembang saat ia menempuh kuliah di bidang Bahasa Inggris di Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta. Sejak tahun 1974 ia mengajar di Fakultas Sastra (sekarang Fakultas Ilmu Budaya) Universitas Indonesia, namun kini telah pensiun. Ia pernah menjadi dekan di sana dan juga menjadi guru besar. Pada masa tersebut ia juga menjadi redaktur pada majalah “Horison”, “Basis”, dan “Kalam”.


Baca juga : Biografi Asma Nadia

Dari kemampuannya di bidang seni, mulai dari menari, bermain gitar, bermain drama, dan sastrawan, tampaknya bidang sastralah yang paling menonjol dimilikinya. Pria yang dijuluki sajak-sajak SDD ini tidak hanya menulis puisi, namun juga cerita pendek. Ia juga menerjemahkan berbagai karya penulis asing, esai, dan sejumlah artikel di surat kabar, termasuk kolom sepak bola. Sapardi juga sedikit menguasai permainan wayang, karena kakeknya selain menjadi abdi dalem juga bekerja sebagai dalang.

Sapardi Djoko Damono banyak menerima penghargaan. Pada tahun 1986 SDD mendapatkan anugerah SEA Write Award. Ia juga penerima Penghargaan Achmad Bakrie pada tahun 2003. Ia adalah salah seorang pendiri Yayasan Lontar. Beberapa puisinya sangat populer dan banyak orang yang mengenalinya, seperti Aku Ingin (sering kali dituliskan bait pertamanya pada undangan perkawinan), Hujan Bulan Juni, Pada Suatu Hari Nanti, Akulah si Telaga, dan Berjalan ke Barat di Waktu Pagi Hari. Kepopuleran puisi-puisi ini sebagian disebabkan musikalisasi terhadapnya. Yang terkenal terutama adalah oleh Reda Gaudiamo dan Tatyana (tergabung dalam duet “Dua Ibu”). Ananda Sukarlan pada tahun 2007 juga melakukan interpretasi atas beberapa karya SDD.

Di dunia fiksi, Sapardi telah menghasilkan 27 buku, di antaranya berupa terjemahan dan karangannya sendiri seperti Duka-Mu Abadi (1969), Membunuh Orang Gila (2003) dan Namaku Sita (2012).

Ia tidak hanya menulis fiksi, tetapi juga non fiksi. Di ranah nonfiksi, Sapardi setidaknya telah menelurkan delapan buku yang semuanya menjadi rujukan penting di dunia kesusastraan Indonesia, seperti Sastra Lisan Indonesia (1983) dan Sosiologi Sastra: Sebuah Pengantar Ringkas (1978).

Sebagai seorang penulis hebat, Sapardi juga memiliki tokoh penulis favorit. Penulis Indonesia yang dia kagumi yaitu Armijn Pane (1908-1970) dengan  novelnya berjudul Belenggu .  Selain itu, dia juga menyukai karya-karya Muchtar Lubis (1922-2004). Sementara penulis luar, Sapardi mengagumi karya-karya adalah Ernest Hemingway dan juga sastrawan Prancis, Albert Camus.



PENGHARGAAN
•    Cultural Award dari Australia (1978)
•    Anugerah Puisi Putra dari Malaysia (1983)
•    SEA Write Award dari Thailand (1986)
•    Anugerah Seni dari Pemerintah Indonesia (1990)
•    Mataram Award (1985)
•    Kalyana Kretya (1996) dari Menristek RI
•    Penghargaan Achmad Bakrie (2003)

Karya Fiksi

Fiksi (Puisi dan Prosa)
  • "Duka-Mu Abadi", Bandung (1969)
  • "Lelaki Tua dan Laut" (1973; terjemahan karya Ernest Hemingway)
  • "Mata Pisau" (1974)
  • "Sepilihan Sajak George Seferis" (1975; terjemahan karya George Seferis)
  • "Puisi Klasik Cina" (1976; terjemahan)
  • "Lirik Klasik Parsi" (1977; terjemahan)
  • "Dongeng-dongeng Asia untuk Anak-anak" (1982, Pustaka Jaya)
  • "Perahu Kertas" (1983)
  • "Sihir Hujan" (1984; mendapat penghargaan Puisi Putera II di Malaysia)
  • "Water Color Poems" (1986; translated by J.H. McGlynn)
  • "Suddenly the night: the poetry of Sapardi Djoko Damono" (1988; translated by J.H. McGlynn)
  • "Afrika yang Resah (1988; terjemahan)
  • "Mendorong Jack Kuntikunti: Sepilihan Sajak dari Australia" (1991; antologi sajak Australia, dikerjakan bersama R:F: Brissenden dan David Broks)
  • "Hujan Bulan Juni" (1994)
  • "Black Magic Rain" (translated by Harry G Aveling)
  • "Arloji" (1998)
  • "Ayat-ayat Api" (2000)
  • "Pengarang Telah Mati" (2001; kumpulan cerpen)
  • "Mata Jendela" (2002)
  • "Ada Berita Apa hari ini, Den Sastro?" (2002)
  • "Membunuh Orang Gila" (2003; kumpulan cerpen)
  • "Nona Koelit Koetjing: Antologi cerita pendek Indonesia periode awal (1870an - 1910an)" (2005; salah seorang penyusun)
  • "Mantra Orang Jawa" (2005; puitisasi mantera tradisional Jawa dalam bahasa Indonesia)
  • "Before Dawn: the poetry of Sapardi Djoko Damono" (2005; translated by J.H. McGlynn)
  • "Kolam" (2009; kumpulan puisi)
  • "Sutradara Itu Menghapus Dialog Kita" (2012)
  • "Namaku Sita" (2012; kumpulan puisi)
  • "The Birth of I Lagaligo" (2013; puitisasi epos "I La Galigo" terjemahan Muhammad Salim, kumpulan puisi dwibahasa bersama John McGlynn)
  • "Hujan Bulan Juni: Sepilihan Sajak" (edisi 1994 yang diperkaya dengan sajak-sajak sejak 1959, 2013; kumpulan puisi)
  • "Trilogi Soekram" (2015; novel)
  • "Hujan Bulan Juni" (2015; novel)
  • "Melipat Jarak" (2015, kumpulan puisi 1998-2015)
  • "Suti" (2015, novel)
Baca juga : Biografi Dewi Lestari

Karya Non Fiksi

  • "Sastra Lisan Indonesia" (1983), ditulis bersama Subagio Sastrowardoyo dan A. Kasim Achmad. Seri Bunga Rampai Sastra ASEAN.
  • "Puisi Indonesia Sebelum Kemerdekaan"
  • "Dimensi Mistik dalam Islam" (1986), terjemahan karya Annemarie Schimmel "Mystical Dimension of Islam", salah seorang penulis.
  • "Jejak Realisme dalam Sastra Indonesia" (2004), salah seorang penulis.
  • "Sosiologi Sastra: Sebuah Pengantar Ringkas" (1978).
  • "Politik ideologi dan sastra hibrida" (1999).
  • "Pegangan Penelitian Sastra Bandingan" (2005).
  • "Babad Tanah Jawi" (2005; penyunting bersama Sonya Sondakh, terjemahan bahasa Indonesia dari versi bahasa Jawa karya Yasadipura, Balai Pustaka 1939).
  • "Bilang Begini, Maksudnya Begitu" (2014), buku apresiasi puisi.

Sebagai sastrawan terkenal, beliau juga aktif menggunakan media sosial. Untuk mengenal lebih dekat dengan Sapardi Djoko Damono, kunjungilah akun  Twitter-nya @SapardiDD.


9:12 AM

Biografi Dewi Lestari - Sastrawan Indonesia

Bagi penggiat literasi di Indonesia, pasti sudah kenal dengan Dewi Lestari atau biasa disapa Dee.
Dee atau yang oleh para pembacanya juga disebut MakSuri, merupakan salah satu penulis atau sastrawan Indonesia yang terkenal dengan novel Supernova. Wanita bernama lengkap Dewi Lestari Simangunsong ini lahir di Bandung, Jawa Barat, 20 Januari 1976 dari pasangan Yohan Simangunsong dan Tiurlan Siagian. Ia adalah anak keempat dari lima bersaudara. Tiga saudara perempuannya juga aktif di bidang seni. Kakak perempuannya, Key Mangunsong, adalah seorang sutradara dan penulis skenario. Kakak perempuan keduanya, Imelda Rosalin adalah seorang pianis dan penyanyi jazz. Adik perempuannya, Arina Ephipania, adalah seorang penyanyi dan merupakan vokalis band Mocca.

Dee bersekolah di SDN Banjarsari III Bandung, SMPN 2 Bandung, SMAN 2 Bandung, lulus tahun 1998 sebagai Sarjana Ilmu Politik dari FISIP Universitas Parahyangan Bandung jurusan Hubungan Internasional.

Karier Musik

Dee pertama kali dikenal masyarakat sebagai anggota trio vokal Rida Sita Dewi. sejak masih di bangku sekolah dasar, Dee aktif di kegiatan vokal grup, paduan suara, dan band sekolah. Dee tercatat pernah menjadi anggota grup vokal Highlight Voices dan paduan suara Glorify Lord Ensemble di bawah pimpinan Daud Saba. Di Bandung, Dee juga pernah dilatih oleh para pelatih vokal seperti Erry RAF, Yoseph, Deden AZ, dan Elfa Secioria.

Semasa sekolah, tim yang diikuti Dee kerap menjuarai berbagai perlombaan vokal group dan paduan suara. Tahun 1993 di SMAN 2 Bandung, Dee mempelopori pentas seni From 2 With Love yang menjadi cikal bakal tren “pensi” sekolah. From 2 With Love masih bertahan menjadi tradisi SMAN 2 Bandung hingga kini.
Selepas SMA tahun 1993, Dee mengawali karier musiknya sebagai penyanyi latar Iwa K bersama Sita (yang kelak menjadi teman grupnya di Rida Sita Dewi). Selama dua tahun menjadi penyanyi latar, Dee pernah bekerja sama dengan banyak penyanyi dan grup papan atas Indonesia, antara lain Java Jive, Emerald, Padhyangan Project, Project Pop, Harvey Malaiholo, dan Chrisye.



baca juga : Biografi Asma Nadia

Dua produser yang tergabung dalam Warna Musik, Adi Adrian dan Adjie Soetama, berniat membentuk trio vokal perempuan. Sita yang sudah menyanyi bersama Dee sejak bangku sekolah mengajaknya ikut serta. Sementara Rida direkomendasikan oleh penyanyi Andre Hehanussa. Di Bandung, mereka merekam demo lagu pertama mereka yang diciptakan oleh Andre Hehanussa dan Adjie Soetama berjudul Antara Kita. Album pertama Rida Sita Dewi (RSD), Antara Kita, dirilis pada tahun 1995, menyusul album kedua Bertiga (1997). Album ketiga yakni Satu (1999) dan album terakhir mereka The Best of RSD (2002) dirilis oleh Sony Music Indonesia.

Berbekal pelajaran piano klasik yang pernah dikecapnya waktu kecil selama dua tahun dan electone selama tiga tahun, Dee banyak menulis lagu dengan bantuan piano. Ia mulai menulis lagu sejak kelas 5 SD, tapi baru setelah bergabung dengan Rida Sita Dewi (RSD) Dee mulai dikenal sebagai penulis lagu profesional. Lagu pertamanya yang masuk dapur rekaman adalah Satu Bintang Di Langit Kelam (1995) dan menjadi salah satu hits single Rida Sita Dewi. Lagu tersebut pernah dinyanyikan ulang oleh vokalis Chandra Satria.

Lagu hits Dee berikutnya adalah Firasat, yang dibawakan oleh Marcell di album pertamanya. Firasat dinyanyikan ulang oleh Raisa untuk OST film Rectoverso. Pada tahun 2006, Dee mengeluarkan album pertamanya yang berbahasa Inggris bertajuk Out of Shell dengan single Simply. Tahun 2008, sebagai bagian dari karya hibrida buku dan musiknya, Dee mengeluarkan album Rectoverso dengan single antara lain: Malaikat Juga Tahu, Peluk (duet bersama Aqi Alexa), dan Aku Ada (duet bersama Arina Mocca). Ketika Rectoverso difilmkan, Glenn Fredly menyanyikan ulang Malaikat Juga Tahu.

Dee kembali terlibat dalam dunia musik ketika bukunya Perahu Kertas diadaptasi menjadi film. Dua single OST film tersebut yakni Perahu Kertas dan Tahu Diri, dipopulerkan oleh Maudy Ayunda. Di album yang sama, Dee juga menulis Dua Manusia (Dendy), Langit Amat Indah (Rida Sita Dewi), A New World (Nadya Fatira).

Semasa karier musiknya, Dee juga sering berkolaborasi sebagai penulis lirik, di antaranya dengan Adjie Soetama, Kahitna, Yovie Widianto, dan Noah. Pada 2016, Dee kembali menulis single untuk Raisa berjudul Kali Kedua.

Karier Menulis

Sebelum Supernova keluar, tak banyak orang yang tahu kalau Dee telah sering menulis. Tulisan Dee pernah dimuat di beberapa media. Salah satu cerpennya berjudul "Sikat Gigi" pernah dimuat di buletin seni terbitan Bandung, Jendela Newsletter, sebuah media berbasis budaya yang independen dan berskala kecil untuk kalangan sendiri. Tahun 1993, ia mengirim tulisan berjudul "Ekspresi" ke majalah Gadis yang saat itu sedang mengadakan lomba menulis dimana ia berhasil mendapat hadiah juara pertama. Tiga tahun berikutnya, ia menulis cerita bersambung berjudul "Rico the Coro" yang dimuat di majalah Mode. Bahkan ketika masih menjadi siswa SMU 2 Bandung, ia pernah menulis sendiri 15 karangan untuk buletin sekolah.

Novel pertamanya yang sensasional, Supernova Satu : Ksatria, Puteri dan Bintang Jatuh, dirilis 16 Februari 2001. Novel yang laku 12.000 eksemplar dalam tempo 35 hari dan terjual sampai kurang lebih 75.000 eksemplar ini banyak menggunakan istilah sains dan cerita cinta. Bulan Maret 2002, Dee meluncurkan “Supernova Satu” edisi Inggris untuk menembus pasar internasional dengan menggaet Harry Aveling (60), ahlinya dalam urusan menerjemahkan karya sastra Indonesia ke bahasa Inggris.

Supernova pernah masuk nominasi Katulistiwa Literary Award (KLA) yang digelar QB World Books. Bersaing bersama para sastrawan kenamaan seperti Goenawan Muhammad, Danarto lewat karya Setangkai Melati di Sayap Jibril, Dorothea Rosa Herliany karya Kill The Radio, Sutardji Calzoum Bachri karya Hujan Menulis Ayam dan Hamsad Rangkuti karya Sampah Bulan Desember.



baca juga: Biografi Taufik Ismail

Sukses dengan novel pertamanya, Dee meluncurkan novel keduanya, Supernova Dua berjudul "Akar" pada 16 Oktober 2002. Novel ini sempat mengundang kontroversi karena dianggap melecehkan umat Hindu. Umat Hindu menolak dicantumkannya lambang OMKARA/AUM yang merupakan aksara suci BRAHMAN Tuhan yang Maha Esa dalam HINDU sebagai cover dalam bukunya. Akhirnya disepakati bahwa lambang Omkara tidak akan ditampilkan lagi pada cetakan ke 2 dan seterusnya.

Pada bulan Januari 2005 Dee merilis novel ketiganya, Supernova episode PETIR. Kisah di novel ini masih terkait dengan dua novel sebelumnya. Hanya saja, ia memasukkan 4 tokoh baru dalam PETIR. Salah satunya adalah Elektra, tokoh sentral yang ada di novel tersebut.

Lama tidak menghasilkan karya, pada bulan Agustus 2008, Dee merilis novel terbarunya yaitu RECTOVERSO yang merupakan paduan fiksi dan musik. Tema yang diusung adalah Sentuh Hati dari Dua Sisi. Recto Verso-pengistilahan untuk dua citra yang seolah terpisah tetapi sesungguhnya satu kesatuan. Saling melengkapi. Buku RECTOVERSO terdiri dari 11 fiksi dan 11 lagu yang saling berhubungan. Tagline dari buku ini adalah Dengar Fiksinya, Baca Musiknya. Website khusus mengenai ulasan buku RECTOVERSO ada di www.dee-rectoverso.com

Pada Agustus 2009, Dee menerbitkan novel Perahu Kertas. Tahun 2012, Dee kembali mengeluarkan novel lanjutan serial Supernova yang berjudul PARTIKEL dengan tokoh utama Zarah.
Oktober 2014, Dee menerbitkan novel lanjutan serial Supernova yang berjudul GELOMBANG dengan tokoh utama Alfa.

Pada tanggal 26 Februari 2016, novel terakhir serial Supernova dengan judul Inteligensia Embun Pagi (IEP) telah beredar di toko buku di Indonesia, dimana sebelumnya Dee menjualnya dengan sistem pre order IEP bertandatangan yang dilangsungkan selama 19 hari. Akibat yang harus ia tanggung adalah menandatangani ribuan buku IEP pesanan pembaca setianya, atau yang

Kehidupan pribadi

Dee menikah dengan penyanyi R&B, Marcell Siahaan pada 12 September 2003. Melalui pernikahan tersebut, pasangan ini dikaruniai seorang anak laki-laki yang diberi nama Keenan Avalokita Kirana (lahir 5 Agustus 2004). Pernikahan ini berakhir setelah Dee menggugat cerai Marcell di Pengadilan Negeri Bale Bandung pada 27 Juni 2008. Dee kemudian menikahi seorang pakar penyembuhan holistik, Reza Gunawan, pada 11 November 2008 di Sydney.

Sekarang Dee tinggal di kawasan Tangerang Selatan bersama Reza dan kedua anaknya, Keenan dan Atisha.
Pada pertengahan Agustus 2012 film PERAHU KERTAS yang diadaptasi dari novelnya mulai tayang di bioskop di seluruh Indonesia. Film arahan Hanung Brahmantyo ini menaruh nama Maudy Ayunda dan Adipati Dolken sebagai peran utama. Dewi Lestari pun ikut muncul sebagai peran pembantu.

Selain PERAHU KERTAS, karya Dewi lainnya yang akan diangkat ke layar lebar adalah RECTOVERSO dan MADRE. RECTOVERSO merupakan film omnibus yang digarap oleh 5 sutradara berbeda yaitu Cathy Sharon, Olga Lidya, Marcella Zalianty, Rachel Maryam dan Happy Salma. Lima sutradara tersebut masing-masing akan menggarap film dari cerpen dalam buku RECTOVERSO yang berjudul Cicak di Dinding, Curhat Buat Sahabat, Malaikat Juga Tahu, Firasat dan Hanya Isyarat.

Dee kerap membagikan foto-foto keluarga di akun Instagram Pribadinya. Berikut data-data akun media sosial yang dimiliki Dewi Lestari.

Twitter : @deelestari
Instagram : @deelestari
Facebook  Fans Page : https://www.facebook.com/Dee-Lestari-6846134641/

8:30 AM

Biografi Asma Nadia - Novelis & Sastrawan Indonesia

Asma Nadia adalah salah satu sastrawan Indonesia, seorang penulis novel yang produktif dan juga pencipta best-seller di Indonesia. Ia menggemari karya-karya Putu Wijaya, Taufik Ismail, dan penulis Rusia, Anton Chekhov,

Asma lahir Jakarta, 26 Maret 1972, ialah anak kedua dari pasangan Amin Usman dari Aceh dan Maria Eri Susanti seorang mualaf keturunan Tiongkok yang berasal dari Medan.  Ia adalah anak kedua dari tiga saudara yang juga merupakan penulis. Helvy Tiana Rosa, dan seorang adik bernama Aeron Tomino.
Sebelum sang ayah, Amin Usman, mencapai puncak karier sebagai pencipta lagu, Asma sekeluarga harus hidup berpindah-pindah dari satu rumah sewa ke rumah sewa lainnya di Jakarta. Menahan rasa lapar akibat kondisi finansial yang kurang baik juga pernah mereka alami. Meski cuma makan nasi pakai garam, Asma dan saudara-saudaranya tetap menikmati makanannya karena disuapi oleh sang ibu.

Di tengah keterbatasan itu, Asma memperhatikan kebiasaan ibunya dalam memuliakan buku. Tiap malam, sang ibu menulis buku harian. Ia juga mencontohkan kepada anak-anaknya untuk menyampul buku-buku mereka dengan sampul plastik atau kertas minyak. Buku juga jadi pelipur lara saat Asma kecil harus bolak-balik ke rumah sakit untuk perawatan kesehatan.


Sejak kelas 1 SD, Asma  didera gegar otak, gangguan paru-paru dan jantung, serta tumor. Sang Ibu sering membelikan buku cerita legenda rakyat agar Asma  tidak bosan di rumah sakit

Ia menikah dengan Isa Alamsyah yang juga seorang penulis. Dari pernikahan tersebut, mereka dikaruniai dua anak yang bernama Eva Maria Putri Salsabila dan Adam Putra Firdaus. Anak mereka juga menekuni karier sebagai penulis.

Karier
Asma Nadia besekolah di SMA 1 Budi Utomo, Jakarta lalu melanjutkan kuliahnya di  Fakultas Teknologi Pertanian di Institut Pertanian Bogor. Namun ia sakit sehingga tidak bisa menjalani kuliah. karena itu, ia lalu menjalani kesehariannya dengan menulis. Hasil-hasil tulisannya kemudian dikirimkan ke beberapa media.  cerpennya yang berjudul Imut dan Koran Gondrong pernah meraih juara pertama Lomba Menulis Cerita Pendek Islami (LMCPI) tingkat nasional yang diadakan majalah Aninda pada tahun 1994 dan 1995.

Selain menulis cerita fiksi, ia juga aktif menulis lirik lagu. Sebagian lirik lagunya terdapat di album Bestari I (1996), Bestari II (1997), dan Bestari III (2003), Snada The Prestation, Air Mata Bosnia, Cinta Ilahi, dan Kaca Diri. Ia pernah mengikuti Pertemuan Sastrawan Nusantara XI di Brunei Darusalam, bengkel kerja kepenulisan novel yang diadakan Majelis Sastra Asia Tenggara (Mastera). Dari hasil kegiatan kepenulisan Mastera, ia menghasilkan novel yang berjudul Derai Sunyi. Sebagai anggota ICMI, Asma Nadia juga pernah diundang untuk mengisi acara bengkel kerja kepenulisan yang diadakan ICMI, orsat Kairo.

Kesibukannya selain sebagai penulis fiksi, ia memimpin Forum Lingkar Pena, sebuah forum kepenulisan bagi penulis muda yang anggotanya hampir ada di seluruh provinsi di Indonesia. Asma juga sering menjadi pemandu acara pada acara yang bernuansa keislaman. Kini, Asma juga aktif dengan pekerjaannya sebagai direktur Yayasan Prakasa Insan Mandiri (Prima). Ia juga sibuk mengadakan berbagai paket kegiatan anak melalui prime kids dan memberi kursus bahasa Inggris.

Karena karya-karyanya, ia pernah mendapat berbagai penghargaan. Selain menulis, Asma sering diminta untuk memberi materi dalam berbagai lokakarya yang berkaitan dengan penulisan dan feminisme, baik di dalam dan di luar negeri. Pada tahun 2009 dalam perjalanannya keliling Eropa setelah mendapatkan undangan writers in residence dari Le Chateau de Lavigny (Agustus - September 2009), ia sempat diundang untuk memberikan seminar dan wawancara kepenulisan di PTRI Jenewa, Masjid Al Falah Berlin (bekerja sama dengan FLP dan KBRI di sana), KBRI Roma, Manchester (dalam acara KIBAR Gathering), dan Newcastle.


Sejak awal tahun 2009, ia merintis penerbitan sendiri dengan nama Asma Nadia Publishing House. Beberapa bukunya yang telah diadaptasi menjadi film adalah Emak Ingin Naik Haji, Rumah Tanpa Jendela dan Assalamualaikum Beijing. Seluruh royalti dari buku Emak Ingin Naik Haji disumbangkannya untuk sosial dan kemanusiaan, khususnya membantu mewujudkan impian kaum Islam untuk menunaikan ibadah haji, tetapi kurang mampu. Ia juga berprofesi sebagai penulis tetap di kolom resonansi Republika setiap Sabtu.
Asma Nadia juga meraih Anugerah Adikarya Ikatan Penerbit Indonesia (IKAPI) dalam bidang Pengarang Fiksi Remaja Terbaik tahun 2001, 2002, dan 2005

Ia pernah menjadi satu dari 35 penulis dari 31 negara yang diundang untuk menjadi penulis tamu dalam Iowa International Writing Program, di sana ia sempat berbagi tentang Indonesia dan proses kreatifnya dalam menulis dengan pelajar dan mahasiswa serta kaum tua di Amerika Serikat. Selain memenuhi undangan membaca cerpen yang telah diterjemahkan ke bahasa Inggris, karyanya terpilih untuk ditampilkan dalam adaptasi ke pentas teater di Iowa, selain berkolaborasi dengan aktor tunarungu Amerika Serikat dalam pementasan di State Department, Washington D.C.

baca juga : Biografi Sastrawan Indonesia Andrea Hirata



Asma Nadia juga mendirikan perpustakaan gratis untuk kaum duafa bernama Rumah Baca Asma Nadia. Hingga saat ini, sudah berdiri 184 perpustakaan yang tersebar di Jawa, Sumatra, Kalimantan, Irian Jaya, dan Hong Kong.

Asma Nadia menulis setiap hari. baginya, menulis merupakan ibadah. Menulis bisa memberi inspirasi kepada orang lain. Menulis dapat memberikan nilai-nilai edukasi tentang kebaikan dan kebenaran dalam berbagai hal. Orang yang membaca karyanya bisa mendapat pencerahan. Menulis akan menjadi ladang amal meskipun ajal menjemput. Biasanya, sebelum menulis, ia terbiasa mengambil wudu terlebih dahulu. Sebagai penulis, Asma Nadia setidaknya sudah menghasilkan 50 buku, enam film layar lebar, dan tiga serial televisi. Ia konsisten ‘merekam’ dan menyuarakan ketidakadilan terhadap wanita.

Ia menggemari seni fotografi, dan telah menjelajah 59 negara dan 270 kota di dunia. Melalui Yayasan Asma Nadia, ia merintis Rumah Baca Asma Nadia yang tersebar di seluruh Indonesia, rumah baca sederhana yang beberapa di antaranya memiliki sekolah dan kelas komputer serta tempat tinggal bagi anak yatim secara gratis untuk membaca dan beraktivitas bagi anak-anak dan remaja yang kurang mampu. Saat ini, ada 140 perpustakaan yang dikelola bersama relawan untuk kaum yang kurang beruntung dan tidak mampu

dari berbagai sumber
8:00 AM

Biogradi Raditya Dika - Penulis Indonesia

Biogradi Raditya Dika - merupakan salah satu penulis Indonesia, terkenal dengan buku serta filmnya yang bergenre komedi dan seringkali hadir sebagai narasumber dalam workshop-workhop serta seminar kepenulisan di kampus-kampus.

Bernama asli Dika Angkasaputra Moerwani, dia lahir di Jakarta 28 Desember 1984. Biasa dipanggil Radith. Karya pertama yang mengangkat namanya adalah buku berjudul Kambing Jantan: Sebuah Catatan Harian Pelajar Bodoh (2005).Buku ini menceritakan kehidupan Radith ketika masih berkuliah di Adelaide, Australia.  Cerita yang dibawakan Radith adalah kisah-kisahnya sebagai pelajar Indonesia yang berkuliah di luar negeri. Buku ini ditampilkan dalam format diary (buku harian. Seluruh cerita dalam karyanya tersebut berasal dari blog pribadi terdahulu milik Radith, www.kambingjantan.com, yang sekarang menjadi www.radityadika.com.
Pendidikan
•    SMU 70 Bulungan
•    Adelaide University
•    Universitas Indonesia Jurusan Ilmu Politik

Buku keduanya berjudul Cinta Brontosaurus, diterbitkan pada tahun 2006. Hampir sama dengan buku sebelumnya, cerita-cerita dalam buku ini berasal dari kisah keseharian Radith. Namun, buku kedua ini menggunakan format cerita pendek (cerpen) yang bercerita mengenai pengalaman cinta Radith yang sepertinya selalu tidak beruntung. Isi dari buku ini meliputi kisah dari sewaktu Radith mengirim surat cinta pertama ke teman saat SD, hingga pengalaman Radith memerhatikan kucing Persia-nya yang jatuh cinta dengan kucing kampung tetangganya.


Buku ketiganya yang berjudul Radikus Makankakus: Bukan Binatang Biasa terbit pada tanggal 29 Agustus 2007.Buku ketiga ini mengisahkan Radith yang pernah menjadi badut Monas dalam sehari, mengajar bimbingan belajar, lalu saat Radith dikira hantu penunggu WC, sampai cerita mengenai kutukan orang NTB.Sementara, buku keempatnya berjudul Babi Ngesot: Datang Tak Diundang Pulang Tak Berkutang terbit pada bulan April 2008.

Ia juga bermain dalam film yang diangkat dari pengalaman hidupnya, Kambing Jantan: The Movie. Pada pertengahan bulan November 2009, melalui situs resminya, Radith mengumumkan bahwa buku kelimanya yang berjudul Marmut Merah Jambu akan segera terbit dengan jadwal edar sementara pada bulan Desember 2009. Namun pada pertengahan bulan Desember silam, Radith kembali lewat situs resminya menyatakan bahwa buku kelimanya tersebut masih mengalami sedikit perubahan dan juga penambahan cerita pada beberapa bagian, sehingga kemungkinan besar penerbitan buku tersebut akan mundur beberapa waktu.Melalui situs resmi pribadinya pada bulan Oktober 2011 ini Raditya Dika juga mengumumkan bahwa bukunya yang berjudul Manusia Setengah Salmon akan segera terbit tanggal 24 Desember 2011. Di situs itu Raditya Dika membuat countdown pada blognya agar para penggemarnya ingat tanggal terbit buku Manusia Setengah Salmon.

Radith mengawali keinginan untuk membukukan catatan hariannya di blog pribadinya saat ia memenangi Indonesian Blog Award.Radith juga pernah meraih Penghargaan bertajuk The Online Inspiring Award 2009 dari Indosat.Dari pengalaman itu, ia mencetak tulisan-tulisannya di blog kemudian ia menawarkannya ke beberapa penerbit untuk dicetak sebagai buku. Awalnya banyak yang menolak, tapi kemudian ketika ia ke Gagasmedia, sebuah penerbit buku, naskah itu diterima, meski harus presentasi dahulu.



Radit sukses menjadi penulis dengan keluar dari arus utama (mainstream).] Ia tampil dengan genre baru yang segar. Yang membuat ia berbeda dari penulis lain adalah ide nama binatang yang selalu ia pakai dalam setap bukunya. Dari buku pertama hingga terbaru, semua judulnya mengandung nama binatang. Bagi Radith, ini adalah selling point-nya.

Radith kini meneruskan studinya di Jurusan Ilmu Politik Fakultas Ilmu Sosial dan Politik di Universitas Indonesia. Selain itu, kini ia berkarier di penerbit buku Bukune,Radith bertindak sebagai direktur juga sebagai direktur dan pemimpin redaksi. Tepat pada hari ulang tahunnya Raditya merayakannya bersama ratusan penggemarnya RDL (Raditya Dika Lovers) di Taman Mini Indonesia Indah.

Berkat adanya Raditya Dika, komedi tunggal Indonesia tidak lagi kuno. Ia memiliki prinsip bahwa Komedi itu sebagian dari hidupnya. Karena komedi bisa membawa karirnya ke jenjang yang lebih baik.


Rangkuman karya-karya Raditya Dika:

Novel
•    2005 - Kambing Jantan: Sebuah Catatan Harian Pelajar Bodoh
•    2006 - Cinta Brontosaurus
•    2007 - Radikus Makankakus: Bukan Binatang Biasa
•    2008 - Babi Ngesot: Datang Tak Diundang Pulang Tak Berkutang
•    2010 - Marmut Merah Jambu
•    2011 - Manusia Setengah Salmon

Komik (bersama Adriano Rudiman)
•    2008 - Kambing Jantan
•    2011 - Kambing Jantan 2

Pemeran Film
•    2009 | Kambing Jantan: The Movie
•    2013 | Cinta Brontosaurus
•    2013 | Cinta Dalam Kardus
•    2013 | Manusia Setengah Salmon
•    2014 | Marmut Merah Jambu

Penulis skenario
•    2009 | Maling Kutang
•    2013 | Cinta Brontosaurus

Acara TV
•    Kompas TV | Comic Action - Sebagai Host
•    Kompas TV | Malam Minggu Miko - Sebagai Miko
•    Kompas TV | Stand Up Comedy Indonesia - Sebagai Juri


Raditya Dika memang multitalenta. Sosoknya yang gigih menginspirasi banyak anak muda lain untuk terus berkarya. Demikian biografi singkat mengenai Raditya Dika.
9:30 AM

Biografi Andrea Hirata - Penulis Laskar Pelangi

Biografi Andrea Hirata - Penulis Laskar Pelangi - Salah satu novelis terkenal Indonesia adalah Andrea Hirata. Ia terkenal setelah meluncurkan tetralogi Laskar Pelangi yang sukses difilmkan. Novel Laskar Pelangi sendiri kini tidak hanya sukses di Indonesia namun juga diterjemahkan ke berbagai bahasa seperti Ingris, Perancis, Jerman dan lainnya hampir di lima benua. Ini merupakan rekor baru untuk sastra Indonesia yang menunjukan bahwa karya Andrea Hirata juga digemari oleh dunia.

Lahir dengan nama Andrea Hirata Seman Said Harun lahir di pulau Belitung pada tanggal 24 Oktober 1982.

Andrea Hirata adalah lulusan S1 Ekonomi Universitas Indonesia. Setelah menyelesaikan studi S1 di UI, pria yang kini masih bekerja di kantor pusat PT Telkom ini mendapat beasiswa Uni Eropa untuk studi Master of Science di Université de Paris, Sorbonne, Perancis dan Sheffield Hallam University, United Kingdom.

Tesis Andrea di bidang ekonomi telekomunikasi mendapat penghargaan dari kedua universitas tersebut dan ia lulus cumlaude. Tesis itu telah diadaptasi ke dalam Bahasa Indonesia dan merupakan buku teori ekonomi telekomunikasi pertama yang ditulis oleh orang Indonesia. Buku itu telah beredar sebagai referensi Ilmiah.



Pada tahun 1997, Andrea Hirata resmi menjadi pegawai PT Telkom. Niatnya untuk menuliskan pengabdian sang inspiratornya kembali membuncah manakala dia menjadi relawan untuk korban tsunami di Aceh. Ketika dia melihat rumah, sekolah, dan berbagai bangunan yang ambruk, memorinya akan masa kecilnya dan tentu saja, Bu Mus memantapkan hatinya untuk menuliskan perjuangan guru tercintanya itu ke dalam sebuah karya sastra. Kemudian,  Andrea Hirata berhasil membuat novel Laskar Pelangi hanya dalam waktu tiga minggu.

Namanya makin melejit seiring kesuksesan novel pertamanya, LASKAR PELANGI. Novel tersebut kemudian jadi best seller. Selain LASKAR PELANGI, ia juga menulis SANG PEMIMPI dan EDENSOR, serta MARYAMAH KARPOV. Keempat novel tersebut tergabung dalam tetralogi.

Walaupun sebenarnya Andrea Hirata tidak berniat untuk mempublikasikan novel atau mengirimkannya pada penerbit, Laskar pelangi tetap sampai pada penerbit. Begitu banyak penghargaan yang Andrea Hirata terima. Beberapa di antaranya adalah penghargaan dari Khatulistiwa Literaly Award (KLA) pada tahun 2007, Aisyiyah Award, Paramadina Award, Netpac Critics Award, dan lain sebagainya.


Sukses dengan novel tetralogi, Andrea merambah dunia film. Novelnya yang pertama, telah diangkat ke layar lebar, dengan judul sama, LASKAR PELANGI pada 2008. Dengan menggandeng Riri Riza sebagai sutradara dan Mira Lesmana sebagai produser, film ini menjadi film yang paling fenomenal di 2008. Dan jelang akhir tahun 2009, Andrea bersama Miles Films dan Mizan Production kembali merilis sekuelnya, SANG PEMIMPI.

Demikian biografi singkat Andrea Hirata yang sebagai pengabdiannya terhadap tanah kelahirannya telah mendirikan museum sastra pertama di Indonesia di kampung halamannya di pulau Belitong. Didorong oleh komitmen terhadap pendidikan dan sastra, lembaga nirlaba ini juga dirancang sebagai pusat pembelajaran, memberikan workshop gratis dan belajar terutama untuk siswa miskin.